home schooling

ozi alternatif

ozi alternatif

home schooling sebgai divusi inovasi pendidikan (pendidikan alternatif)
Home-schooling merupakan sebuah wacana pembelajaran yang menitikberatkan kepada pemanfaatan potensi anak didik dengan sedikit supervisi. Sistem seperti ini sebenarnya telah dicoba diterapkan di Indonesia dengan konsep CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Namun dalam pelaksanaannya masih terbentur dengan praktek-praktek di lapangan yang sering sekali gagal dalam mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Masalah-masalah klasik seperti kurangnya peralatan, buku-buku, bahan-bahan praktek, maupun kompetensi guru yang bersangkutan masih saja terjadi di Indonesia.

Ada suatu cerita tentang keberhasilan anak didik dalam pembelajaran yang efektif sehingga memungkinkan anak didik tersebut dapat kuliah pada umur belia. Ini merupakan kisah sukses dari pembelajaran yang kita idam-idamkan. Sebuah kisah sukses yang dapat menimbulkan inspirasi dari setiap orang tua untuk lebih memacu dan menyeimbangkan proses belajar anak-anaknya menjadi lebih efektif dan tepat guna. Hal tersebut mungkin tidaklah mustahil bagi anak-anak lain karena sebenarnya setiap manusia dilahirkan dengan memiliki potensi yang sama. Potensi untuk berfikir dan mencipta.
Untuk mencapai prestasi seperti itu dibutuhkan suatu pengetahuan untuk mempelajari sesuatu. Seorang anak didik yang selalu dicekokin dengan ilmu oleh gurunya di sekolah akan sangat lamban dalam mengadopsi ilmu-ilmu baru terutama ilmu-ilmu terapan yang berkembangannya sangat pesat dewasa ini. Akan lebih efektif jika siswa didik diajarkan suatu metode untuk menyerap ilmu-ilmu terutama ilmu-ilmu yang diminati oleh siswa didik. jadi lebih gamlangnya dinyatakan dengan “belajar bagaimana untuk belajar” . “learn how to learn”. Konsepnya sederhana saja, anak didik diajarkan suatu metode atau cara serta disediakan berbagai resource berupa informasi maupun alat praktek dan diajarkan caranya bagaimana belajar, menelaah, dan mempraktekkan suatu bidang studi. Di sini anak dirangsung untuk menggali minat dan potensinya sendiri untuk berkembang. Anak-anak didik dibekali dengan ilmu-ilmu dasar dan dirangsang untuk menggali lebih lanjut ilmu-ilmu tersebut. Sebagai contoh yang dapat diambil adalah anak-anak yang tertarik di bidang teknik elektronika tidak diberikan tentang ilmu-ilmu biologi terapan atau menghapal istilah-istilah biologi yang nantinya tidak pernah dipakai dalam hidupnya. Waktu-waktu yang digunakan dia untuk belajar ilmu-ilmu yang tidak digunakan menjadi terbuang percuma karena tidak pernah dimanfaatkan sehingga menjadi informasi yang sia-sia karena terlupakan dan tidak digunakan.
Suatu kritik bagi pendidikan saat ini adalah terlalu memaksakan suatu kurikulum kepada anak sehingga terkesan ingin menciptakan robot-robot dalam industri yang sangat bersaing saat ini. Kurikulum tersebut dirancang agar kita menjadi manusia serba bisa di segala bidang. Banyak anak didik setelah lulus dari sma menjadi kebingungan memilih sekolah tujuannya karena dari kecil telah biasa disuap oleh gurunya sehingga memilih jurusan dengan pertimbangan “prestise” dan “mudah mencari kerja” saja. Ini merupakan perkerdilan potensi dari manusia yang telah dianugerahkan akal dan potensi sekian banyak dan disia-siakan. Banyak lulusan lulusan sekolah formal menjadi pengangguran baik terutama pengangguran terselubung akibat sistem yang tidak efektif ini
Kini saatnya menatap kedepan dan mendiskusikan suatu sistem pendidikan yang lebih konprehensif dan tepat guna agar semua potensi yang dimiliki oleh anak-anak dapat berkembang secara optimal agar masa depan anak maupun negara kita menjadi lebih cerah menuju masyarakat yang maju, sejahtera, dan berkeadilan sosial
Home-schooling merupakan sebuah wacana pembelajaran yang menitikberatkan kepada pemanfaatan potensi anak didik dengan sedikit supervisi. Sistem seperti ini sebenarnya telah dicoba diterapkan di Indonesia dengan konsep CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Namun dalam pelaksanaannya masih terbentur dengan praktek-praktek di lapangan yang menurut saya sering sekali gagal dalam mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Masalah-masalah klasik seperti kurangnya peralatan, buku-buku, bahan-bahan praktek, maupun kompetensi guru yang bersangkutan masih saja terjadi di Indonesia.

Ada suatu cerita tentang keberhasilan anak didik dalam pembelajaran yang efektif sehingga memungkinkan anak didik tersebut dapat kuliah pada umur belia. Sayang saya lupa namanya. Ini merupakan kisah sukses dari pembelajaran yang kita idam-idamkan. Sebuah kisah sukses yang dapat menimbulkan inspirasi dari setiap orang tua untuk lebih memacu dan menyeimbangkan proses belajar anak-anaknya menjadi lebih efektif dan tepat guna. Hal tersebut mungkin tidaklah mustahil bagi anak-anak lain karena sebenarnya setiap manusia dilahirkan dengan memiliki potensi yang sama. Potensi untuk berfikir dan mencipta.

Untuk mencapai prestasi seperti itu dibutuhkan suatu pengetahuan untuk mempelajari sesuatu. Seorang anak didik yang selalu dicekokin dengan ilmu oleh gurunya di sekolah akan sangat lamban dalam mengadopsi ilmu-ilmu baru terutama ilmu-ilmu terapan yang berkembangannya sangat pesar dewasa ini. Akan lebih efektif jika siswa didik diajarkan suatu metode untuk menyerap ilmu-ilmu terutama ilmu-ilmu yang diminati oleh siswa didik. jadi lebih gamlangnya dinyatakan dengan “belajar bagaimana untuk belajar” . “learn how to learn”. Konsepnya sederhana saja, anak didik diajarkan suatu metode atau cara serta disediakan berbagai resource berupa informasi maupun alat praktek dan diajarkan caranya bagaimana belajar, menelaah, dan mempraktekkan suatu bidang studi. Di sini anak dirangsung untuk menggali minat dan potensinya sendiri untuk berkembang. Anak-anak didik dibekali dengan ilmu-ilmu dasar dan dirangsang untuk menggali lebih lanjut ilmu-ilmu tersebut. Sebagai contoh yang dapat diambil adalah anak-anak yang tertarik di bidang teknik elektronika tidak diberikan tentang ilmu-ilmu bioligi terapan atau menghapal istilah-istilah biologi yang nantinya tidak pernah dipakai dalam hidupnya. Waktu-waktu yang digunakan dia untuk belajar ilmu-ilmu yang tidak digunakan menjadi terbuang percuma karena tidak pernah dimanfaatkan sehingga menjadi informasi yang sia-sia karena terlupakan dan tidak digunakan.

Suatu kritik bagi pendidikan saat ini adalah terlalu memaksakan suatu kurikulum kepada anak sehingga terkesan ingin menciptakan robot-robot dalam industri yang sangat bersaing saat ini. Kurikulum tersebut dirancang agar kita menjadi manusia serba bisa di segala bidang. Banyak anak didik setelah lulus dari sma menjadi kebingungan memilih sekolah tujuannya karena dari kecil telah biasa disuap oleh gurunya sehingga memilih jurusan dengan pertimbangan “prestise” dan “mudah mencari kerja” saja. Ini merupakan perkerdilan potensi dari manusia yang telah dianugerahkan akal dan potensi sekian banyak dan disia-siakan. Banyak lulusan lulusan sekolah formal menjadi pengangguran baik terutama pengangguran terselubung akibat sistem yang tidak efektif ini

Kini saatnya kita menatap kedepan dan mendiskusikan suatu sistem pendidikan yang lebih konprehensif dan tepat guna agar semua potensi yang dimiliki oleh anak-anak kita dapat berkembang secara optimal agar masa depan anak kita maupun negara kita menjadi lebih cerah menuju masyarakat yang maju, sejahtera, dan berkeadilan sosial

About KANZAMEDIA

WIRAUSAHA

Posted on Januari 11, 2009, in pendidikan. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. witek wana banget nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: